Subscribe:

Welcome

Jumat, 07 September 2012

Menjauhkan anak dari sikap sombong

Berikut delapan cara mengatasi sekaligus mencegah munculnya sifat sombong atau tinggi hati pada anak, seperti disarankan psikolog, Dewi Romadhona, Psi.

1. Berikan pujian sewajarnya.

Memuji itu penting untuk memberikan penghargaan kepada anak sehingga meningkatkan percaya dirinya. Tetapi pujian sebaiknya tidak berlebihan dan terlalu sering dilakukan. Pujian pun sebaiknya diberikan pada anak yang sudah berhasil mencapai prestasi dari kemampuannya sendiri. Misal, anak memiliki ponsel baru yang ia beli dari uang hasil tabungannya sendiri. Kalau kita yang membelikan tak perlu memberikan pujian kepada anak.

2. Hindari contoh negatif.Berikan selalu contoh yang baik, termasuk bagaimana harus bersikap rendah hati. Anak akan mencontoh apa yang akan kita lakukan. ketika kita sedang mengendarai mobil bagus bersama anak-anak, kemudian melihat mobil jelek di depan mobil kita, hindari mencela. "Mobil jelek itu jalannya lambat sekali!" Atau, ketika kita membelikan ponsel baru, hindari perkataan, " Teman-temanmu pasti tidak punya ponsel secanggih ini!" Jika anak kerap mendengar kalimat seperti ini dikhawatirkan akan menular ke anak sehingga muncul rasa tinggi hatinya.

3. Hindari membanding-bandingkan.
Tidak semua anak bisa berprestasi bagus. Mungkin saja nilai pelajaran di sekolahnya biasa-biasa saja, ia juga tidak bisa bermain musik atau menyanyi, di bidang olahraga pun biasa-biasa saja. Sementara itu, kakaknya memiliki prestasi sangat bagus di sekolah dan di luar sekolah. Hal ini tidak membuat kita membanding-bandingkannya karena anak yang berprestasi bagus akan merasa tinggi hati.

4. Ajak anak bersyukur dan rendah hati.

Anak mungkin memiliki kelebihan dibandingkan anak lain. Ajak ia mensyukuri kelebihannya itu, "Tuhan sudah memberikan otak yang cerdas kepadamu, Nak. Ayo kita bersyukur!"; "Sebagai bukti rasa syukur, kamu tidak boleh sombong tetapi harus membagi ilmu kepada adik atau teman-temanmu!" Wujud rasa syukur lain adalah mengajak anak bersikap rendah hati, tidak terlalu membanggakan prestasinya.

5. Kembangkan empatinya

Ajari anak meningkatkan empatinya. Mungkin ia memiliki mainan yang lebih bagus dibandingkan temannya. Minta anak untuk tidak membanggakan mainannya itu, melainkan ajak temannya untuk bermain bersama. "Kasihan temanmu ingin bermain, dia kan tidak punya mainan seperti milikmu. Ayo ajak ia bermain bersama!" Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan empati anak, semisal, pergi ke panti asuhan, menyumbang pada pengemis, membagi makanan ke teman, dan lainnya.

6. Tanamkan, orang lain pun punya kelebihan.

Tanamkan kepada anak, selain dirinya ada orang lain yang punya prestasi bagus. Di sekolah ada si A yang jago matematika, si B yang jago sepakbola, si C yang jago bermain piano, dan lainnya. Hal ini akan membuat anak sadar bahwa tidak hanya ia yang memilik prestasi bagus. Demikian pula dengan kekayaan dan fasilitas,tak hanya anak yang memiliki ponsel bagus, mobil mewah, rumah indah, tetapi banyak temannya juga memilikinya. Ajaklah anak bersosialisasi dengan mereka sehingga ia lebih memahami kondisi yang sebenarnya, bukan malah menjauhi apalagi memusuhi.

7. Penekanan karakter lebih baik
Ketika melihat orang lain memiliki kelebihan entah itu memiliki rumah bagus, mobil mewah, mainan mahal, juara kelas, dan lainnya, sebaiknya tidak mengagung-agungkannya. Apalagi jika mereka memiliki karakter yang kurang baik, semisal tinggi hati. Tekankan kepada anak, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Mungkin kita lebih miskin namun ia memiliki keluarga yang baik-baik. "Buat apa memiliki mobil mewah namun perilakunya tinggi hati!"

8. Komunikasi empat mata

Pada kasus-kasus tertentu kita butuh komunikasi empat mata dengan anak. Jika sikap sombong dan tinggi hati anak sudah sering ditunjukkan, ajak ia berbicara empat mata, dari hati ke hati. Ulaslah perilaku anak dan berikan alasan kenapa ia harus menghilangkan sifat sombongnya. "Jika kamu seperti itu terus nanti teman-temanmu akan membenci mu! Mereka tidak senang memiliki teman yang sombong". Lalu berikan arahan apa yang seharusnya ia lakukan. "Nanti kita ajak teman-temanmu belajar bersama di sini, kamu ajari mereka supaya pintar seperti kamu!".

(Tabloid Nakita/Irfan Hasuki)

0 komentar:

Posting Komentar